Perbedaan Pakaian PDU 1 dan PDU 3
Pakaian Dinas Utama (PDU) adalah seragam militer penting yang digunakan oleh personel TNI (Tentara Nasional Indonesia), POLRI (Kepolisian Republik In…
Pakaian Dinas Utama (PDU) adalah seragam militer penting yang digunakan oleh personel TNI (Tentara Nasional Indonesia), POLRI (Kepolisian Republik In…
Warna merupakan elemen penting dalam dekorasi rumah yang dapat mempengaruhi suasana dan suasana hati ruangan. Dalam desain interior, dua warna putih …
Cara Membuat Menu Navigasi Blogger - blogge Pemula sudah menjadi hal yang sangat wajar dalam bidang apapun, tak terkecuali dalam dunia blog. Saya m…
Sekilas Tentang Mbah KH Sahlan Tholib - Kyai Sahlan merupakan salah satu ulama salaf dan ulama kuno yang mempunyai karomah YANG SANGAT JARANG TEREKS…
Biografi KH Hasan Gipo, Ampel, Surabaya, Jawa Timur Ketua Tanfidziyah PBNU Pertama - Hasan Gipo atau Hasan Basri lahir di Surabaya pada tahun 1869 d…
Industri kecantikan semakin berkembang pesat, dengan berbagai produk yang bermunculan setiap hari. Salah satu merek yang kini tengah populer adalah S…
Sekilas Tentang Gus Ma'ruf bin Zubair - Kita tahu bahwa Sarang termasuk daerah yang merupakan gudang ulama. Di antara mereka ada satu ulama yang…
Jejak KI Ageng Rogosasi - Bagi Masyarakat Tumang Boyolali, nama Ki Ageng Rogosasi tentu tak asing bagi mereka. Nama tersebut merupakan seorang penye…
Konversi IP Address ke Biner Konversi IP Address ke Biner Masukkan IP Address: Konversi …
Dalil Lengkap Sampainya Pahala Kepada Mayit - Untuk menguatkan syariat kita bahwah menghadiahkan pahala bacaan Al Quran dan kalimat Thoyyibah kepada…
Di Salatiga, terdapat salah satu pondok pesantren yang masih terkenal nuansa tradisional yaitu Pondok Pesantren Sunan Giri, tepatnya di dusun Krasak, kelurahan Ledok, kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Walaupun masih memakai metode tradisional, tetapi sudah mulai menyatu dengam perkembangan zaman tanpa melepas karakter tradisionalnya. Di pondok pesantren tersebut ada Madrasah Diniyyah yang diselenggarakan di tiap malam, mulai pukul 7 sampai 9 malam. “Waktu muda bisa berlalu, akan tetapi kesempatan tidak bisa datang kedua kali.“, itu merupakan kata-kata penyemangat yang saya dapatkan di salah satu kesempatan malam Madrasahan yang saya ikuti. Kata motivasi itu diutarakan oleh seorang guru yang mengisi pelajaran Jam'u al-Jawāmi' malam itu, nama beliau Ustadz Anas Mukhlison.
Menurut
pengakuan beberapa orang yang di antaranya dari santri maupun guru. Dari
santri, ada yang menceritakan bahwa pak Anas itu kalau memberi pelajaran, pasti
enak. Sering dibumbui dengan pelajaran Nahwu dan Sharaf, bahkan beserta dalilnya,
seperti dari ‘Imrīthy, Alfiah ibn Mālik, Al-Qawāid ash-Sharfiyyah, Tashrifan
dan Maqshūd. “Pokoknya, kamu jangan sampai ketinggalan bahasan dari
beliau. Karena selain diberi penjelasan keterangan menurut nahwu shorof, bahkan
juga diselingi Ushul Fiqh, Fiqih, Tashawwuf dan hikmah lainnya.”. Kata kang
Zahir, santri dari Dadapayam dengan serunya menceritakan.
Selain cerita
dari santri, ada juga yang dari guru-guru lain, namanya pak Abdul Kholiq “pak
Anas itu, kalo dilihat di lingkungan kita, seperti ustadz biasa, pakaiannya
sederhana. Tapi, beliau itu juga kerap dijadikan delegasi Bahtsu al-Masāil dari
kota Salatiga di berbagai event.”. Itulah kiranya yang membuat santri
terkagum atas sifat mulianya. Pandai dan bijak dalam ilmu agama serta
mengamalkannya.
Dalam malam
madrasahan, di saat beliau menjelaskan bahasan pendahuluan kitab Jam'u
al-Jawāmi', beliau sempat bercerita, bahwa dulu sebelum masuk ke pondok
Lirboyo Kediri, beliau sudah menghapalkan Alfiyah Ibn Malik, dengan
alasan beliau sudah hapal dulu sebelum mempelajarinya. Kenalan dulu sebelum
merangkulnya, ibarat dalam bercinta. Hal itu sudah disinggung dalam kitab
nadzam ‘Imrithy
وَأَنْ يَكُوْنَ نَافِعًا بِعِلْمِهِ
# مَنِ اعْتَنَى بِحفْظِهِ وَفَهْمِهِ
“Sang Mushonnif
berdoa kepada Allah semoga bisa memberikan kemanfaatan dalam nadzam ini kepada
oramg-orang yang mengamalkan bersungguh sungguh dengan menghapalkan dan
memamahaminya. ”
Dalam ungkapan
itu, kata “menghapalkan” didahulukan oleh Mushonnif daripada kata
“memahaminya”. Sehingga dari ungkapan tersbut, pak Anas melakukan hal demikian,
“menghapalkan dulu sebelum memahaminya”.
Jadi dari contoh tersebut, kita bisa
memulai menghapalkan ilmunya sebelum memahaminya. Akan tetapi, beliau juga
menimpali bahwa setiap yang guru kita jelaskan, lalu kita faham maka harus kita
tulis dalam buku. Beliau menyampaikan itu, karena usia bisa melewati
masa-masanya sendiri. Sehingga jika kita lupa, kita bisa membuka buku catatan
itu karena hasil tulisan di saat guru menjelaskan. Senjatanya orang yang
mencari ilmu itu pena dan kertas. Kalau zaman sekarang, kalau tidak membawa
kertas saat keluar atau di forum tertentu, bisa diketik di notes android atau
sejenisnya.
Secercah
pencerahan ini mewakili perasaan yang dulu saya rasakan bahwa putus asa dalam
kebaikan merupakan salah satu kesalahan dalam menggunakan energi, waktu,
pikiran dan dana. Karena itu merupakan salah satu jatah kegagalan di usia muda.
Beliau mengungkapkan, selain pena dan kertas, kita juga harus memiliki prinsip
yang positif, semangat Dzu al-Himmat al-Ulya (yang memiliki impian paling
tinggi). Sebelum Allah Sang Pemilik Waktu menuntut mati kepada kita, kita menjadi
pribadi yang positif supaya bisa mencapai kesuksesan. Beliau membunyikan satu Nazham
‘Imrithy;
Biodata