Mengungkapkan Senjata Pencari Ilmu

natverse

 Di Salatiga, terdapat salah satu pondok pesantren yang masih terkenal nuansa tradisional yaitu Pondok Pesantren Sunan Giri, tepatnya di dusun Krasak, kelurahan Ledok, kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Walaupun masih memakai metode tradisional, tetapi sudah mulai menyatu dengam perkembangan zaman tanpa melepas karakter tradisionalnya. Di pondok pesantren tersebut ada Madrasah Diniyyah yang diselenggarakan di tiap malam, mulai pukul 7 sampai 9 malam. “Waktu muda bisa berlalu, akan tetapi kesempatan tidak bisa datang kedua kali.“, itu merupakan kata-kata penyemangat yang saya dapatkan di salah satu kesempatan malam Madrasahan yang saya ikuti. Kata motivasi itu diutarakan oleh seorang guru yang mengisi pelajaran Jam'u al-Jawāmi' malam itu, nama beliau Ustadz Anas Mukhlison.

Menurut pengakuan beberapa orang yang di antaranya dari santri maupun guru. Dari santri, ada yang menceritakan bahwa pak Anas itu kalau memberi pelajaran, pasti enak. Sering dibumbui dengan pelajaran Nahwu dan Sharaf, bahkan beserta dalilnya, seperti dari ‘Imrīthy, Alfiah ibn Mālik, Al-Qawāid ash-Sharfiyyah, Tashrifan dan Maqshūd. “Pokoknya, kamu jangan sampai ketinggalan bahasan dari beliau. Karena selain diberi penjelasan keterangan menurut nahwu shorof, bahkan juga diselingi Ushul Fiqh, Fiqih, Tashawwuf dan hikmah lainnya.”. Kata kang Zahir, santri dari Dadapayam dengan serunya menceritakan.

Selain cerita dari santri, ada juga yang dari guru-guru lain, namanya pak Abdul Kholiq “pak Anas itu, kalo dilihat di lingkungan kita, seperti ustadz biasa, pakaiannya sederhana. Tapi, beliau itu juga kerap dijadikan delegasi Bahtsu al-Masāil dari kota Salatiga di berbagai event.”. Itulah kiranya yang membuat santri terkagum atas sifat mulianya. Pandai dan bijak dalam ilmu agama serta mengamalkannya.

Dalam malam madrasahan, di saat beliau menjelaskan bahasan pendahuluan kitab Jam'u al-Jawāmi', beliau sempat bercerita, bahwa dulu sebelum masuk ke pondok Lirboyo Kediri, beliau sudah menghapalkan Alfiyah Ibn Malik, dengan alasan beliau sudah hapal dulu sebelum mempelajarinya. Kenalan dulu sebelum merangkulnya, ibarat dalam bercinta. Hal itu sudah disinggung dalam kitab nadzam ‘Imrithy

وَأَنْ يَكُوْنَ نَافِعًا بِعِلْمِهِ # مَنِ اعْتَنَى بِحفْظِهِ وَفَهْمِهِ

“Sang Mushonnif berdoa kepada Allah semoga bisa memberikan kemanfaatan dalam nadzam ini kepada oramg-orang yang mengamalkan bersungguh sungguh dengan menghapalkan dan memamahaminya. ”

Dalam ungkapan itu, kata “menghapalkan” didahulukan oleh Mushonnif daripada kata “memahaminya”. Sehingga dari ungkapan tersbut, pak Anas melakukan hal demikian, “menghapalkan dulu sebelum memahaminya”.

            Jadi dari contoh tersebut, kita bisa memulai menghapalkan ilmunya sebelum memahaminya. Akan tetapi, beliau juga menimpali bahwa setiap yang guru kita jelaskan, lalu kita faham maka harus kita tulis dalam buku. Beliau menyampaikan itu, karena usia bisa melewati masa-masanya sendiri. Sehingga jika kita lupa, kita bisa membuka buku catatan itu karena hasil tulisan di saat guru menjelaskan. Senjatanya orang yang mencari ilmu itu pena dan kertas. Kalau zaman sekarang, kalau tidak membawa kertas saat keluar atau di forum tertentu, bisa diketik di notes android atau sejenisnya.

            Secercah pencerahan ini mewakili perasaan yang dulu saya rasakan bahwa putus asa dalam kebaikan merupakan salah satu kesalahan dalam menggunakan energi, waktu, pikiran dan dana. Karena itu merupakan salah satu jatah kegagalan di usia muda. Beliau mengungkapkan, selain pena dan kertas, kita juga harus memiliki prinsip yang positif, semangat Dzu al-Himmat al-Ulya (yang memiliki impian paling tinggi). Sebelum Allah Sang Pemilik Waktu menuntut mati kepada kita, kita menjadi pribadi yang positif supaya bisa mencapai kesuksesan. Beliau membunyikan satu Nazham ‘Imrithy;

إِذِ الْفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعْ # وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ

Di malam itu, seketika otot dan syaraf saya bereaksi untuk melaksanakan petuah-petuah dari beliau. Semoga kita semua bisa diberi rahmat dari Allah untuk menjalani ibadah setiap hari.

Aaamiin.

Gambar: Pak Anas (baju Koko warna coklat) dalam sesi dokumentasi foto bersama peserta ujian Madrasah Sunan Giri. 9 maret 2019.

Biodata

Penulis bernama Ahmad Habiburrohman, seorang Santri baru yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Sunan Giri, Kota Salatiga dan berdomisili di lokasi tersebut. Juga merupakan seorang penikmat kopi dan tembakau.

Mau donasi lewat mana?

Paypal
Bank BCA - An.Dwi Lestari / Rek - 3930706719
Traktir creator minum kopi dengan cara memberi sedikit donasi. klik icon panah di atas
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.